Sabtu, 13 Februari 2010

 BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN LELE


1. SEJARAH SINGKAT
Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Di
Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang),
ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi
(Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali
(Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang
(Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish.
Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai
dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele
bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari,
ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada
musim penghujan.
2. SENTRA PERIKANAN
Ikan lele banyak ditemukan di benua Afrika dan Asia. Dibudidayakan di Thailand, India,
Philipina dan Indonesia. Di Thailand produksi ikan lele ± 970 kg/100m2/tahun. Di India
(daerah Asam) produksinya rata-rata tiap 7 bulan mencapai 1200 kg/Ha.
3. JENIS
Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam Djatmika et al (1986)
adalah:
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Klas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Familia : Clariidae
Genus : Clarias
Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dapat dikembangkan:
1. Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat),
ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
2. Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).
3. Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa
Tengah), wiru (Jawa Barat).
4. Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat),
kaleh (Kalimantan Selatan).
5. Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang
(Kalimantan Timur).
6. Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat fish,
berasal dari Afrika.
4. MANFAAT
1. Sebagai bahan makanan
2. Ikan lele dari jenis C. batrachus juga dapat dimanfaatkan sebagai ikan pajangan atau
ikan hias.
3. Ikan lele yang dipelihara di sawah dapat bermanfaat untuk memberantas hama padi
berupa serangga air, karena merupakan salah satu makanan alami ikan lele.
4. Ikan lele juga dapat diramu dengan berbagai bahan obat lain untuk mengobati
penyakit asma, menstruasi (datang bulan) tidak teratur, hidung berdarah, kencing
darah dan lain-lain.
5. PERSYARATAN LOKASI
1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak
berporos, berlumpur dan subur. Lahan yang dapat digunakan untuk budidaya lele
dapat berupa: sawah, kecomberan, kolam pekarangan, kolamkebun, dan blumbang.
2. Ikan lele hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai daerah yang tingginya
maksimal 700 m dpl.
3. Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.
4. Lokasi untuk pembuatan kolam harus berhubungan langsung atau dekat dengan
sumber air dan tidak dekat dengan jalan raya.
5. Lokasi untuk pembuatan kolam hendaknya di tempat yang teduh, tetapi tidak berada
di bawah pohon yang daunnya mudah rontok.
6. Ikan lele dapat hidup pada suhu 20°C, dengan suhu optimal antara 25-28°C.
Sedangkan untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu antara 26-
30°C dan untuk pemijahan 24-28 ° C.
7. Ikan lele dapat hidup dalam perairan agak tenang dan kedalamannya cukup, sekalipun
kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin zat O2.
8. Perairan tidak boleh tercemar oleh bahan kimia, limbah industri, merkuri, atau
mengandung kadar minyak atau bahan lainnya yang dapat mematikan
ikan.
9. Perairan yang banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan ikan dan bahan makanan
alami. Perairan tersebut bukan perairan yang rawan banjir.
10. Permukaan perairan tidak boleh tertutup rapat oleh sampah atau daun-daunan hidup,
seperti enceng gondok.
11. Mempunyai pH 6,5–9; kesadahan (derajat butiran kasar ) maksimal 100 ppm dan
optimal 50 ppm; turbidity (kekeruhan) bukan lumpur antara 30–60
cm; kebutuhan O2 optimal pada range yang cukup lebar, dari 0,3 ppm untuk yang
dewasa sampai jenuh untuk burayak; dan kandungan CO2 kurang dari
12,8 mg/liter, amonium terikat 147,29-157,56 mg/liter.
12. Persyaratan untuk pemeliharaan ikan lele di keramba :
1. Sungai atau saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol.
2. Dekat dengan rumah pemeliharaannya.
3. Lebar sungai atau saluran irigasi antara 3-5 meter.
4. Sungai atau saluran irigasi tidak berbatu-batu, sehingga keramba mudah
dipasang.
5. Kedalaman air 30-60 cm.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Dalam pembuatan kolam pemeliharaan ikan lele sebaiknya ukurannya tidak terlalu
luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentuk
dan ukuran kolam pemeliharaan bervariasi, tergantung selera pemilik dan lokasinya.
Tetapi sebaiknya bagian dasar dan dinding kolam dibuat permanen.
Pada minggu ke 1-6 air harus dalam keadaan jernih kolam, bebas dari pencemaran
maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu kejernihan airnya harus
dipertahankan. Pada minggu 10, air dalam batas-batas tertentu masih diperbolehkan.
Kekeruhan menunjukkan kadar bahan padat yang melayang dalam air (plankton). Alat
untuk mengukur kekeruhan air disebut secchi. Prakiraan kekeruhan air berdasarkan
usia lele (minggu) sesuai angka secchi :
o Usia 10-15 minggu, angka secchi = 30-50
o Usia 16-19 minggu, angka secchi = 30-40
o Usia 20-24 minggu, angka secchi = 30
2. Penyiapan Bibit
1. Menyiapkan Bibit
1. Pemilihan Induk
1. Ciri-ciri induk lele jantan:
.. Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
.. Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan
lele betina.
.. Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol,
memanjang ke arah belakang, terletak di belakang
anus, dan warna kemerahan.
.. Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak
gepeng (depress).
.. Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding
induk ikan lele betina.
.. Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut
ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental
(spermatozoa-mani).
.. Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.
2. Ciri-ciri induk lele betina
.. Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.
.. Warna kulit dada agak terang.
.. Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat
daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar
dan terletak di belakang anus.
.. Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak
cembung.
.. Perutnya lebih gembung dan lunak.
.. Bila bagian perut di stripping secara manual dari
bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan
kekuning-kuningan (ovum/telur).
3. Syarat induk lele yang baik:
.. Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
.. Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam
kolam sejak kecil supaya terbiasa hidup di kolam.
.. Berat badannya berkisar antara 100-200 gram,
tergantung kesuburan badan dengan ukuran panjang
20-5 cm.
.. Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak cacat,
tidak luka, dan lincah.
.. Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan
induk betina berumur satu tahun.
.. Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali, dan
sepanjang hidupnya bisa memijah lebih dari 15 kali
dengan syarat apabila makanannya
mengandung cukup protein.
4. Ciri-ciri induk lele siap memijah adalah calon induk terlihat
mulai berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan
dan yang betina. Induk tersebut segera ditangkap dan
ditempatkan dalam kolam tersendiri untuk dipijahkan.
5. Perawatan induk lele:
.. Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk
ikan lele diberi makanan yang berkadar protein tinggi
seperti cincangan daging
bekicot, larva lalat/belatung, rayap atau makanan
buatan (pellet). Ikan lele membutuhkan pellet dengan
kadar protein yang relatif
tinggi, yaitu ± 60%. Cacing sutra kurang baik untuk
makanan induk lele, karena kandungan lemaknya
tinggi. Pemberian cacing sutra
harus dihentikan seminggu menjelang perkawinan atau
pemijahan.
.. Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan
jumlah 5-10% dari berat total ikan.
.. Setelah benih berumur seminggu, induk betina
dipisahkan, sedangkan induk jantan dibiarkan untuk
menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru bisa
dipindahkan apabila anak-anak lele sudah berumur 2
minggu.
.. Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau
yang terserang penyakit untuk segera diobati.
.. Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun
kecepatan aliran tidak perlu deras, cukup 5-6
liter/menit.
2. Pemijahan Tradisional
1. Pemijahan di Kolam Pemijahan
1. Kolam induk:
.. Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau
tembok sebagian dengan dasar tanah.
.. Luas bervariasi, minimal 50 m2.
.. Kolam terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian
dangkal (70%) dan bagian dalam (kubangan)
30 % dari luas kolam. Kubangan ada di bagian
tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm,
berfungsi untuk bersembunyi induk, bila kolam
disurutkan airnya.
.. Pada sisi-sisi kolam ada sarang peneluran
dengan ukuran 30x30x25 cm3, dari tembok
yang dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran
dari pipa paralon diamneter 1 inchi untuk
keluarnya banih ke kolam pendederan.
.. Setiap sarang peneluran mempunyai satu
lubang yang dibuat dari pipa paralon (PVC)
ukuran ± 4 inchi untuk masuknya induk-induk
lele.
.. Jarak antar sarang peneluran ± 1 m.
.. Kolam dikapur merata, lalu tebarkan pupuk
kandang (kotoran ayam) sebanyak 500-750
gram/m2.
.. Airi kolam sampai batas kubangan, biarkan
selama 4 hari. Kolam Rotifera (cacing bersel
tunggal):
.. Letak kolam rotifera di bagian atas dari kolam
induk berfungi untuk menumbuhkan makanan
alami ikan (rotifera).
.. Kolam rotifera dihubungkan ke kolam induk
dengan pipa paralon untuk mengalirkan
rotifera.
.. Kolam rotifera diberi pupuk organik untuk
memenuhi persyaratan tumbuhnya rotifera.
.. Luas kolam ± 10 m2.
2. Pemijahan:
.. Siapkan induk lele betina sebanyak 2 x jumlah
sarang yang tersedia dan induk jantan
sebanyak jumlah sarang; atau satu pasang per
sarang; atau satu pasang per 2-4 m2 luas
kolam (pilih salah satu).
.. Masukkan induk yang terpilih ke kubangan,
setelah kubangan diairi selama 4 hari.
.. Beri/masukkan makanan yang berprotein
tinggi setiap hari seperti cacing, ikan rucah,
pellet dan semacamnya, dengan dosis (jumlah
berat makanan) 2-3% dari berat total ikan
yang ditebarkan .
.. Biarkan sampai 10 hari.
.. Setelah induk dalam kolam selama 10 hari, air
dalam kolam dinaikkan sampai 10-15 cm di
atas lubang sarang peneluran atau kedalaman
air dalam sarang sekitar 20-25 cm. Biarkan
sampai 10 hari. Pada saat ini induk tak perlu
diberi makan, dan diharapkan selama 10 hari
berikutnya induk telah memijah dan bertelur.
Setelah 24 jam, telur telah menetas di sarang,
terkumpullah benih lele. Induk lele yang baik
bertelur 2-3 bulan satu kali bila makanannya
baik dan akan bertelur terus sampai umur 5
tahun.
.. Benih lele dikeluarkan dari sarnag ke kolam
pendederan dengan cara: air kolam disurutkan
sampai batas kubangan, lalu benih
dialirkan melalui pipa pengeluaran.
.. Benih-benih lele yang sudah dipindahkan ke
kolam pendederan diberi makanan secara
intensif, ukuran benih 1-2 cm, dengan
kepadatan 60 -100 ekor/m2.
.. Dari seekor induk lele dapat menghasilkan ±
2000 ekor benih lele. Pemijahan induk lele
biasanya terjadi pada sore hari atau malam
hari.
2. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Berpasangan
0. Penyiapan bak pemijahan secara berpasangan:
.. Buat bak dari semen atau teraso dengan
ukuran 1 x 1 m atau 1 x 2 m dan tinggi 0,6 m.
.. Di dalam bak dilengkapi kotak dari kayu
ukuran 25 x 40x30 cm tanpa dasar sebagai
sarang pemijahan. Di bagian atas diberi lubang
dan diberi tutup untuk melihat adanya telur
dalam sarang. Bagian depan kotak/sarang
pemijahan diberi enceng gondok supaya kotak
menjadi gelap.
.. Sarang pemijahan dapat dibuat pula dari
tumpukan batu bata atau ember plastik atau
barang bekas lain yang memungkinkan.
.. Sarang bak pembenihan diberi ijuk dan kerikil
untuk menempatkan telur hasil pemijahan.
.. Sebelum bak digunakan, bersihkan/cuci
dengan air dan bilas dengan formalin 40 %
atau KMnO4 (dapat dibeli di apotik); kemudian
bilas lagi dengan air bersih dan keringkan.
1. Pemijahan:
.. Tebarkan I (satu) pasang induk dalam satu
bak setelah bak diisi air setinggi ± 25 cm.
Sebaiknya airnya mengalir. Penebaran
dilakukan pada jam 14.00–16.00.
.. Biarkan induk selama 5-10 hari, beri makanan
yang intensif. Setelah ± 10 hari, diharapkan
sepasang induk ini telah memijah, bertelur dan
dalam waktu 24 jam telur-telur telah menetas.
Telur-telur yang baik adalah yang berwarna
kuning cerah.
.. Beri makanan anak-anak lele yang masih kecil
(stadium larva) tersebut berupa kutu air atau
anak nyamuk dan setelah agak besar
dapat diberi cacing dan telur rebus.
3. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Masal
0. Penyiapan bak pemijahan secara masal:
.. Buat bak dari semen seluas 20 m2 atau 50
m2, ukuran 2x10 m2 atau 5x10 m2.
.. Di luar bak, menempel dinding bak dibuat
sarang pemijahan ukuran 30x30x30 cm3, yang
dilengkapi dengan saluran pengeluaran benih
dari paralon (PVC) berdiameter 1 inchi. Setiap
sarang dibuatkan satu lubang dari paralon
berdiameter 4 inchi.
.. Dasar sarang pemijahan diberi ijuk dan kerikil
untuk tempat menempel telur hasil pemijahan.
.. Sebelum digunakan, bak dikeringkan dan
dibilas dengan larutan desinfektan atau
formalin, lalu dibilas dengan air bersih;
kemudian keringkan.
1. Pemijahan:
.. Tebarkan induk lele yang terpilih (matang
telur) dalam bak pembenihan sebanyak
2xjumlah sarang , induk jantan sama
banyaknya dengan induk betina atau dapat
pula ditebarkan 25-50 pasang untuk bak
seluas 50 m2 (5x10 m2), setelah bak
pembenihan diairi setinggi 1 m.
.. Setelah 10 hari induk dalam bak, surutkan air
sampai ketinggian 50- 60 cm, induk beri
makan secara intensif.
.. Sepuluh hari kemudian, air dalam bak
dinaikkan sampai di atas lubang sarang
sehingga air dalam sarang mencapai
ketinggian 20-25 cm.
.. Saat air ditinggikan diharapkan induk-induk
berpasangan masuk sarang pemijahan,
memijah dan bertelur. Biarkan sampai ± 10
hari.
.. Sepuluh hari kemudian air disurutkan lagi, dan
diperkirakan telur-telur dalam sarang
pemijahan telah menetas dan menjadi benih
lele.
.. Benih lele dikeluarkan melalui saluran
pengeluaran benih untuk didederkan di kolam
pendederan.
3. Pemijahan Buatan
Cara ini disebut Induced Breeding atau hypophysasi yakni merangsang
ikan lele untuk kawin dengan cara memberikan suntikan berupa cairan
hormon ke dalam tubuh ikan. Hormon hipophysa berasal dari kelenjar
hipophysa, yaitu hormon gonadotropin. Fungsi hormon gonadotropin:
.. Gametogenesis: memacu kematangan telur dan sperma,
disebut Follicel Stimulating Hormon. Setelah 12 jam
penyuntikan, telur mengalami ovulasi (keluarnya telur dari
jaringan ikat indung telur). Selama ovulasi, perut ikan betina
akan membengkak sedikit demi sedikit karena ovarium
menyerap air. Saat itu merupakan saat yang baik untuk
melakukan pengurutan perut (stripping).
.. Mendorong nafsu sex (libido)
2. Perlakuan dan Perawatan Bibit
1. Kolam untuk pendederan:
.. Bentuk kolam pada minggu 1-2, lebar 50 cm, panjang 200 cm,
dan tinggi 50 cm. Dinding kolam dibuat tegak lurus, halus, dan
licin, sehingga apabila bergesekan dengan tubuh benih lele
tidak akan melukai. Permukaan lantai agak miring menuju
pembuangan air. Kemiringan dibuat beda 3 cm di antara
kedua ujung lantai, di mana yang dekat tempat pemasukan air
lebih tinggi. Pada lantai dipasang pralon dengan diameter 3-5
cm dan panjang 10 m.
.. Kira-kira 10 cm dari pengeluaran air dipasang saringan yang
dijepit dengan 2 bingkai kayu tepat dengan permukaan dalam
dinding kolam. Di antara 2 bingkai dipasang selembar kasa
nyamuk dari bahan plastik berukuran mess 0,5-0,7 mm,
kemudian dipaku.
.. Setiap kolam pendederan dipasang pipa pemasukan dan pipa
air untuk mengeringkan kolam. Pipa pengeluaran dihubungkan
dengan pipa
plastik yang dapat berfungsi untuk mengatur ketinggian air
kolam. Pipa plastik tersebut dikaitkan dengan suatu pengait
sebagai gantungan.
.. Minggu ketiga, benih dipindahkan ke kolam pendederan yang
lain. Pengambilannya tidak boleh menggunakan jaring, tetapi
dengan mengatur ketinggian pipa plastik.
.. Kolam pendederan yang baru berukuran 100 x 200 x 50 cm,
dengan bentuk dan konstruksi sama dengan yang sebelumnya.
2. Penjarangan:
.. Penjarangan adalah mengurangi padat penebaran yang
dilakukan karena ikan lele berkembang ke arah lebih besar,
sehingga volume
ratio antara lele dengan kolam tidak seimbang.
.. Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat
mengakibatkan :
.. Ikan berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka.
.. Terjadi perebutan ransum makanan dan suatu saat
dapat memicu mumculnya kanibalisme (ikan yang
lebih kecil dimakan oleh ikan
yang lebih besar).
.. Suasana kolam tidak sehat oleh menumpuknya CO2
dan NH3, dan O2 kurang sekali sehingga pertumbuhan
ikan lele terhambat.
.. Cara penjarangan pada benih ikan lele :
.. Minggu 1-2, kepadatan tebar 5000 ekor/m2
.. Minggu 3-4, kepadatan tebar 1125 ekor/m2
.. Minggu 5-6, kepadatan tebar 525 ekor/m2
3. Pemberian pakan:
.. Hari pertama sampai ketiga, benih lele mendapat makanan
dari kantong kuning telur (yolk sac) yang dibawa sejak
menetas.
.. Hari keempat sampai minggu kedua diberi makan zooplankton,
yaitu Daphnia dan Artemia yang mempunyai protein 60%.
Makanan tersebut diberikan dengan dosis 70% x biomassa
setiap hari yang dibagi dalam 4 kali pemberian. Makanan
ditebar disekitar tempat pemasukan air. Kira-kira 2-3 hari
sebelum pemberian pakan zooplankton berakhir, benih lele
harus dikenalkan dengan makanan dalam bentuk tepung yang
berkadar protein 50%. Sedikit dari tepung tersebut diberikan
kepada benih 10-15 menit sebelum pemberian zooplankton.
Makanan yang berupa teoung dapat terbuat dari campuran
kuning telur, tepung udang dan sedikit bubur nestum.
.. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap
hari.
.. Minggu keempat dan kelima diberi pakan sebanyak 32% x
biomassa setiap hari.
.. Minggu kelima diberi pakan sebanyak 21% x biomassa setiap
hari.
.. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap
hari.
.. Minggu keenam sudah bisa dicoba dengan pemberian pelet
apung.
4. Pengepakan dan pengangkutan benih
.. Cara tertutup:
.. Kantong plastik yang kuat diisi air bersih dan benih
dimasukkan sedikit demi sedikit. Udara dalam plastik
dikeluarkan. O2 dari tabung dimasukkan ke dalam air
sampai volume udara dalam plastik 1/3–1/4 bagian.
Ujung plastik segera diikat rapat.
.. Plastik berisi benih lele dimasukkan dalam kardus atau
peti supaya tidak mudah pecah.
.. Cara terbuka dilakukan bila jarak tidak terlalu jauh:
.. Benih lele dilaparkan terlebih dahulu agar selama
pengangkutan, air tidak keruh oleh kotoran lele.
(Untuk pengangkutan lebih dari 5 jam).
.. Tempat lele diisi dengan air bersih, kemudian benih
dimasukkan sedikit demi sedikit. Jumlahnya
tergantung ukurannya. Benih ukuran
10 cm dapat diangkut dengan kepadatan maksimal
10.000/m3 atau 10 ekor/liter. Setiap 4 jam, seluruh
air diganti di tempat yang teduh.
3. Pemeliharaan Pembesaran
0. Pemupukan
1. Sebelum digunakan kolam dipupuk dulu. Pemupukan bermaksud untuk
menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi makanan
alami bagi benih lele.
2. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan
dosis 500-700 gram/m 2 . Dapat pula ditambah urea 15 gram/m2,
TSP 20 gram/m 2 , dan amonium nitrat 15 gram/m 2 . Selanjutnya
dibiarkan selama 3 hari.
3. Kolam diisi kembali dengan air segar. Mula-mula 30-50 cm dan
dibiarkan selama satu minggu sampai warna air kolam berubah
menjadi coklat atau kehijauan yang menunjukkan mulai banyak jasadjasad
renik yang tumbuh sebagai makanan alami lele.
4. Secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar.
1. Pemberian Pakan
1. Makanan Alami Ikan Lele
.. Makanan alamiah yang berupa Zooplankton, larva, cacingcacing,
dan serangga air.
.. Makanan berupa fitoplankton adalah Gomphonema spp (gol.
Diatome), Anabaena spp (gol. Cyanophyta), Navicula spp (gol.
Diatome),
ankistrodesmus spp (gol. Chlorophyta).
.. Ikan lele juga menyukai makanan busuk yang berprotein.
.. Ikan lele juga menyukai kotoran yang berasal dari kakus.
2. Makanan Tambahan
.. Pemeliharaan di kecomberan dapat diberi makanan tambahan
berupa sisa-sisa makanan keluarga, daun kubis, tulang ikan,
tulang ayam yang dihancurkan, usus ayam, dan bangkai.
.. Campuran dedak dan ikan rucah (9:1) atau campuran bekatul,
jagung, dan bekicot (2:1:1).
3. Makanan Buatan (Pellet)
.. Komposisi bahan (% berat): tepung ikan=27,00; bungkil
kacang kedele=20,00; tepung terigu=10,50; bungkil kacang
tanah=18,00;
tepung kacang hijau=9,00; tepung darah=5,00; dedak=9,00;
vitamin=1,00; mineral=0,500;
.. Proses pembuatan:
Dengan cara menghaluskan bahan-bahan, dijadikan adonan
seperti pasta, dicetak dan dikeringkan sampai kadar airnya
kurang dari 10%.
Penambahan lemak dapat diberikan dalam bentuk minyak
yang dilumurkan pada pellet sebelum diberikan kepada lele.
Lumuran minyak
juga dapat memperlambat pellet tenggelam.
.. Cara pemberian pakan:
.. Pellet mulai dikenalkan pada ikan lele saat umur 6
minggu dan diberikan pada ikan lele 10-15 menit
sebelum pemberian makanan
yang berbentuk tepung.
.. Pada minggu 7 dan seterusnya sudah dapat langsung
diberi makanan yang berbentuk pellet.
.. Hindarkan pemberian pakan pada saat terik matahari,
karena suhu tinggi dapat mengurangi nafsu makan
lele.
2. Pemberian Vaksinasi
Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan:
1. Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan, lele
yang berumur 2 minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan formalin
dengan
dosis 200 ppm selama 10-15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut
akan kebal selama 6 bulan.
2. Pencegahan penyakit karena bakteri juga dapat dilakukan dengan
menyutik dengan terramycin 1 cc untuk 1 kg induk.
3. Pencegahan penyakit karena jamur dapat dilakukan dengan
merendam lele dalam larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3 ppm
selama 30 menit.
3. Pemeliharaan Kolam/Tambak
1. Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200 gram/m2
untuk memberantas hama dan bibit penyakit.
2. Air dalam kolam/bak dibersihkan 1 bulan sekali dengan cara
mengganti semua air kotor tersebut dengan air bersih yang telah
diendapkan 2
malam.
3. Kolam yang telah terjangkiti penyakit harus segera dikeringkan dan
dilakukan pengapuran dengan dosis 200 gram/m 2 selama satu
minggu.
Tepung kapur (CaO) ditebarkan merata di dasar kolam, kemudian
dibiarkan kering lebih lanjut sampai tanah dasar kolam retak-retak.
7. HAMA DAN PENYAKIT
1. Hama dan Penyakit
1. Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu
kehidupan lele.
2. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara
lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan
gabus dan belut.
3. Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering
menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak
banyak diserang hama. Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh
organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang
berukuran kecil.
1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas
hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang
terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak,
berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi
gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di
permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar
tetap bersih, termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan
antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari,
diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid sebanyak
100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.
2. Penyakit Tuberculosis
Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan
berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati,
ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau
miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian:
memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan
Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari
selama 5–15 hari.
3. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.
Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau
ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan
benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah
lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh
lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang
seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa
direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit
dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1
jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.
4. Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadangkadang
amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut
Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat
lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik
berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering
menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya. Pengobatan:
dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran
larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate
0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar.
Pengobatan diulang setelah 3 hari.
5. Penyakit Cacing Trematoda
Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing
Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus
menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi lukaluka,
kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan
terganggu. Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m 3 air
selama 15 menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3)
mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat
(KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit; (4) memakai larutan NaCl 2%
selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5%
selama ± 10 menit.
6. Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.
Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit,
sehingga
menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati
pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5
ppm.
2. Hama Kolam/Tambak
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya,
kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti
dengan yang suhunya lebih dingin.
2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.
8. PANEN
1. Penangkapan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:
1. Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu
dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.
2. Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4
bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan
ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.
3. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu
kepanasan.
4. Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan
seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.
5. Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.
6. Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan
dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
7. Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1-
2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
8. Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.
2. Pembersihan
Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:
1. Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur
sebanyak 20-200 gram/m 2 pada dinding kolam sampai rata.
2. Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan
permanganat kalikus (PK) dengan cara yang sama.
3. Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar
matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang
ada di kolam.
9. PASCAPANEN
1. Setelah dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perutnya. Sebelum dibersihkan
sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan memukul kepalanya memakai muntu
atau kayu.
2. Saat mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu, karena dapat
menyebabkan daging terasa pahit.
3. Setelah isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan untuk berbagai ragam
masakan.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisis Usaha Budidaya
Analisis Usaha Pembenihan Ikan Lele Dumbo di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun,
Kabupaten Blitar adalah sebagai berikut:
1. Biaya produksi
1. Lahan
.. Tanah 123 m 2 Rp. 123.000,-
.. Kolam 9 buah Rp. 1.230.000,-
.. Perawatan kolam Rp. 60.000,-
2. Bibit/benih
.. betina 40 ekor @ Rp. 12.000,- Rp. 480.000,-
.. jantan 10 ekor @ Rp. 10.000,- Rp. 100.000,-
3. Pakan
.. Pakan benih Rp. 14.530.300,-
.. Pakan induk Rp. 4.818.000,-
4. Obat-obatan Rp. 42.000,-
5. Peralatan
.. pompa air3 bh @ Rp. 110.000,- Rp. 330.000,-
.. diesel 1 bh @ Rp. 600.000,- Rp. 600.000,-
.. sikat 1.bh @.Rp. 25.000,- Rp. 25.000,-
.. jaring 1 bh @.Rp. 150.000,- Rp. 150.000,-
.. bak 5 bh @ Rp. 3.000,- Rp. 15.000,-
.. timba 7 bh @.Rp. 3.000,- Rp. 21.000,-
.. alat seleksi 6 bh @.Rp. 4.000,- Rp. 24.000,-
.. ciruk 5 bh @. Rp. 1.500,- Rp. 7.500,-
.. gayung 5 bh @. Rp.1.000,- Rp. 5.000,-
.. selang Rp. 90.000,-
.. paralon Rp. 70.000,-
.. Perawatan alat Rp. 120.000,-
6. Tenaga kerja Rp. 420.000,-
7. Lain-lain Rp. 492.000,-
8. Biaya tak terduga 10% Rp. 2.522.800,-
Jumlah biaya produksi Rp. 5.045.600,-
2. Pendapatan Rp. 2.220.000,-
3. Keuntungan Rp. 7.174.400,-
4. Parameter kelayakan usaha 25%
5. BEP dalam unit (ekor)
.. ukuran 1 1.138
.. ukuran 2 325.049
.. ukuran 3 65.010
.. ukuran 4 6.501
.. ukuran 5 11.377
.. ukuran 6 260
2. Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya ikan lele, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai
prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan
ikan lele semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan
diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.
11. DAFTAR PUSTAKA
1. Arifin, M.Z. 1991. Budidaya lele. Dohara prize. Semarang.
2. Djamiko, H., Rusdi, T. 1986. Lele. Budidaya, Hasil Olah dan Analisa Usaha. C.V.
Simplex. Jakarta.
3. Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V. Simplex.
Jakarta.
4. Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penerbit Swadaya.
Jakarta.
5. Simanjutak, R.H. 1996. Pembudidayaan Ikan Lele Lokal dan Dumbo. Bhratara.
Jakarta.
6. Soetomo, M.H.A. 1987. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo. Sinar Baru. Bandung.
7. Susanto, H. 1987. Budidaya ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.
12. KONTAK HUBUNGAN
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar